Berteman. Kata itu yang selalu ingin gue junjung dari waktu ke waktu.
Teman sangat dibutuhkan untuk berbagai hal dalam kehidupan. Terlebih
apabila kita membutuhkan apa yang tidak kita bisa atau miliki. Mereka
bisa membantu bahkan mencarikan apa yang kita butuhkan.
Seiring berjalannya waktu, teman semakin lama semakin bertambah
kuantitasnya. Tetapi tidak dengan kualitasnya. Ada yang berkualitas
tinggi ada juga yang berkualitas rendah atau biasa orang mengatakan kw.
Entah apa yang gue pikirkan pada waktu menulis ini. Menurut gue saat ini
banyak teman yang bermuka dua atau mungkin bahkan bermuka tiga, empat,
lima dan seterusnya. Dalam konteks ini gue bukan bermaksud untuk
menghina teman gue sendiri. Tapi pada dasarnya mereka lah yang membuat
pemikiran gue seperti ini.
Sewaktu kita masih duduk di bangku sekolah dasar, bermain dengan
teman sejenis dianggap wajar dan tidak berbau apa-apa. Apabila anak
tingkat sekolah dasar bermain dengan lawan jenis bisa diledekin setengah
mati malunya.
Seiring berjalannya waktu kita mulai beranjak mulai ke tingkat
sekolah menengah. Pada masa ini mulai ada perkembangan pertemanan dengan
siapa saja. Laki-laki dan perempuan bisa berteman dengan mudahnya.
Tetapi itu semua masih dalam konteks ‘aman’ walaupun tidak semuanya
seperti itu. Semakin berjalannya waktu, pertemanan tidak bisa dikatakan
aman lagi. Semua orang berlomba-lomba mencari pasangan. Padahal saat itu
bukan waktunya untuk mereka mencari pasangan untuk pendamping hidup.
Dalam hal ini apabila kita tidak mengikuti perkembangan zaman, dapat
dipungkiri semakin banyaknya serangan, cacian, makian, dan berbagai
macam istilah jenis tertawaan.
Untuk menghadapi itu semua dibutuhkan kemampuan beradaptasi yang expert
supaya tidak menjadi kaum yang terkucilkan. Pengorbanan terus dilakukan
untuk beradaptasi dengan sesama. Materi, waktu, kesehatan, pendidikan
adalah sebagian kecil dari segala yang kita korbankan. Tetapi tidak
banyak yang tidak menyesal mengorbankannya. Belum ada analisis yang
menyebutkan bahwa kehilangan semua itu dapat membuat hormon kesenangan
tumbuh dalam diri seseorang.
Menginjak bangku perkuliahan banyak hal yang berbeda dari pencarian
teman. Pada masa ini tidak semua orang ingin berteman. Mungkin dalam
jejaring sosial mereka menyebutkan bahwa ingin berteman dengan siapa
saja. Tetapi dalam realitanya, mereka semua hanya menjadikan teman di
jejarin sosial apabila mereka mengenal lama ataupun yang sudah mereka
kenal sebelumnya. Apakah sudah tercapainya tujuan dari pembentukan
jejaring sosial untuk masyarakat yang membutuhkan teman?
Lain lagi fenomena yang terjadi apabila seorang mahasiswa selalu
bermain bersama setiap hari. Mereka yang sering bermain merasa sudah
cocok dengan teman sepermainannya. Tetapi ada hal lain yang dilihat dari
sisi pengamat. Kemungkinan besar terjadinya saling suka sesama jenis
dapat muncul apabila mereka selalu bertemu dan semakin dekat kemanapun
mereka pergi. Pemikiran itu mungkin masuk akal karena semakin intensnya
mereka bertemu mungkin saja rasa suka tumbuh dari diri mereka. Tetapi
pemikiran itu tidak bisa sepenuhnya dibenarkan. Mungkin saja mereka
memang mempunyai urusan yang sejalan sehingga tidak dapt dipisahkan satu
dengan yang lainnya.
Entahlah apa yang terjadi dengan pencarian teman masa ini. Apapun
yang ada disekitar kita, kita tidak boleh acuh terhadap lingkungan. Jika
tidak mempunyai respon yang kuat terhadap perubahan lingkungan, mungkin
saja kita tidak dapat beradaptasi untuk mengembangkan pola pikir yang
kita miliki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar