Kamis, 05 Juli 2012

Mencoba dan Terus Mencoba

Berteman. Kata itu yang selalu ingin gue junjung dari waktu ke waktu. Teman sangat dibutuhkan untuk berbagai hal dalam kehidupan. Terlebih apabila kita membutuhkan apa yang tidak kita bisa atau miliki. Mereka bisa membantu bahkan mencarikan apa yang kita butuhkan.

Seiring berjalannya waktu, teman semakin lama semakin bertambah kuantitasnya. Tetapi tidak dengan kualitasnya. Ada yang berkualitas tinggi ada juga yang berkualitas rendah atau biasa orang mengatakan kw. Entah apa yang gue pikirkan pada waktu menulis ini. Menurut gue saat ini banyak teman yang bermuka dua atau mungkin bahkan bermuka tiga, empat, lima dan seterusnya. Dalam konteks ini gue bukan bermaksud untuk menghina teman gue sendiri. Tapi pada dasarnya mereka lah yang membuat pemikiran gue seperti ini.

Sewaktu kita masih duduk di bangku sekolah dasar, bermain dengan teman sejenis dianggap wajar dan tidak berbau apa-apa. Apabila anak tingkat sekolah dasar bermain dengan lawan jenis bisa diledekin setengah mati malunya.

Seiring berjalannya waktu kita mulai beranjak mulai ke tingkat sekolah menengah. Pada masa ini mulai ada perkembangan pertemanan dengan siapa saja. Laki-laki dan perempuan bisa berteman dengan  mudahnya. Tetapi itu semua masih dalam konteks ‘aman’ walaupun tidak semuanya seperti itu. Semakin berjalannya waktu, pertemanan tidak bisa dikatakan aman lagi. Semua orang berlomba-lomba mencari pasangan. Padahal saat itu bukan waktunya untuk mereka mencari pasangan untuk pendamping hidup. Dalam hal ini apabila kita tidak mengikuti perkembangan zaman, dapat dipungkiri semakin banyaknya serangan, cacian, makian, dan berbagai macam istilah jenis tertawaan.

Untuk menghadapi itu semua dibutuhkan kemampuan beradaptasi yang expert supaya tidak menjadi kaum yang terkucilkan. Pengorbanan terus dilakukan untuk beradaptasi dengan sesama. Materi, waktu, kesehatan, pendidikan adalah sebagian kecil dari segala yang kita korbankan. Tetapi tidak banyak yang tidak menyesal mengorbankannya. Belum ada analisis yang menyebutkan bahwa kehilangan semua itu dapat membuat hormon kesenangan tumbuh dalam diri seseorang.
Menginjak bangku perkuliahan banyak hal yang berbeda dari pencarian teman. Pada masa ini tidak semua orang ingin berteman. Mungkin dalam jejaring sosial mereka menyebutkan bahwa ingin berteman dengan siapa saja. Tetapi dalam realitanya, mereka semua hanya menjadikan teman di jejarin sosial apabila mereka mengenal lama ataupun yang sudah mereka kenal sebelumnya. Apakah sudah tercapainya tujuan dari pembentukan jejaring sosial untuk masyarakat yang membutuhkan teman?

Lain lagi fenomena yang terjadi apabila seorang mahasiswa selalu bermain bersama setiap hari. Mereka yang sering bermain merasa sudah cocok dengan teman sepermainannya. Tetapi ada hal lain yang dilihat dari sisi pengamat. Kemungkinan besar terjadinya saling suka sesama jenis dapat muncul apabila mereka selalu bertemu dan semakin dekat kemanapun mereka pergi. Pemikiran itu mungkin masuk akal karena semakin intensnya mereka bertemu mungkin saja rasa suka tumbuh dari diri mereka. Tetapi pemikiran itu tidak bisa sepenuhnya dibenarkan. Mungkin saja mereka memang mempunyai urusan yang sejalan sehingga tidak dapt dipisahkan satu dengan yang lainnya.
Entahlah apa yang terjadi dengan pencarian teman masa ini. Apapun yang ada disekitar kita, kita tidak boleh acuh terhadap lingkungan. Jika tidak mempunyai respon yang kuat terhadap perubahan lingkungan, mungkin saja kita tidak dapat beradaptasi untuk mengembangkan pola pikir yang kita miliki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar