Rabu, 01 Agustus 2012

Bersyukur Tak Boleh Terlupa


Bogor, mungkin banyak orang yang mengetahui nama salah satu kota di jawa barat ini. Banyak juga yang mengetahui bahwa disana tempatnya untuk bersenang-senang. Banyak tempat wisata yang bagus untuk dikunjungi bersama keluarga tercinta. Ya benar memang, Bogor memang seperti itu adanya. Tetapi selain banyak hal positif yang ada disini, hal negatif juga banyak terdapat di kota kecil ini. Gue bilang kecil karena letaknya yang bisa dibilang pinggirannya Jakarta. Walaupun pinggiran tetapi tidak seperti ‘pinggiran’ pada umumnya. Universitas pertanian terbaik di Indonesia ada di kota ini, IPB tepatnya.

Bangga, pastinya anak SMA yang lolos seleksi masuk sini akan merasa sangat bangga bisa masuk universitas terbaik ini. Tetapi lain halnya dengan orang yang ‘nyasar’ di universitas ini. Bagi orang yang seperti itu pasti galau akan melanjutkan registrasi atau ikut tes di tempat lain. Seperti contohnya gue yang dari dulu berkeinginan ingin jauh dari orang tua tetapi malah tersangkut disini. Awalnya gue bingung kenapa orang seperti gue ini dapet universitas bagus seperti IPB ini. Gue bukan termasuk golongan orang yang punya prestasi seabreg. Gue juga bukan orang yang juara umum tiap tahun. Gue adalah siswa dengan kemampuan yang sangat biasa yang dengan keberuntungan luar biasa bisa lolos seleksi masuk IPB tanpa perlu ikut tes. Pertama liat pengumuman sih bangga, tapi gue bingung juga harapan gue buat ngerantau pupus perlahan. Niat gue yang mau ke Jogja, Solo, atau Semarang benar-benar hilang dan akhirnya terjebak di Bogor.

Pendapat yang banyak gue serap dari orang terdekat dianjurkan ambil aja IPBnya, sayang kalo dilepas, banyak orang yang kepengen banget masuk sini. Tapi tetep aja gue belum bisa nerima semuanya. Gue cuma pengen pergi jauh dari Tangerang, kota gue dibesarkan sejak sekolah dasar. Gue pengen mendalami budaya gue, budaya Jawa. Banyak yang pengen gue lakuin kalo gue keterima di regional 2. Rencana demi rencana udah terbayang kalo gue keterima. Tetapi Allah berkehendak lain. Allah berkehendak gue untuk ga boleh jauh dari orang tua. Entah pertanda apa yang membuat Allah memberi rencana ke gue seperti ini. Padahal kata bapak gue terserah mau kuliah dimana aja yang penting gue seneng dan ga terpaksa menjalani kehidupan di kuliah nanti, tapi raut wajah ibu gue terlihat ga menyetujui itu walaupun terucap dalam mulutnya iya boleh.

Tersadar dari pendapat banyak orang, gue memilih untuk registrasi ulang di Bogor. Ga tau juga apa yang membuat gue terjebak dalam arus yang begitu deras ini. Terlalu deras sampai gue ga bisa menolak untuk ga di Bogor. Setelah waktu semakin berlajan, ga terasa udah 1 tahun gue menjalani hidup di Bogor. Tapi dalam hati kecil tetap masih ingin pergi jauh, sejauh-jauhnya dari Tangerang dan kalo bisa ga perlu kembali lagi. Gue pengen buat warna di hidup gue sendiri tanpa ada coretan dari orang lain, tetapi semua itu belum bisa gue raih. Semua ada kendalinya. Hati atau otak yang mengendalikannya, entah apapun itu.

Hari libur ada 1 hari dan itu gue manfaatkan untuk ketemu sahabat-sahabat gue yang baru pulang ke Tangerang. Gue tumpahkan segala keluh kesah yang gue dapet di Bogor ini. Semua gue ceritakan sedetail mungkin. Tapi panjangnya cerita gue cuma ditanggapi dengan sangat singkat, katanya gue harus terus gerak dan lebih bersyukur karena masih diberikan kesempatan kuliah walaupun tidak bisa sejauh yang gue harapkan. Itu ngena banget disaat gue udah ga ada semangat untuk balik lagi ke Bogor buat nerusin kegiatan gue ini. Bukan lingkungan yang bikin gue ga betah, tetapi jarak yang terlalu sangat dekat banget dengan orang tua yang bikin gue ga betah disini. Kuliah deket itu kalo ga pulang jadi bahan omongan, tapi kalo pulang terus gue jadi ga bisa belajar untuk kehidupan gue suatu saat nanti.

Setibanya di Bogor gue langsung ngeliat temen gue yang kasihan banget. Dia kayaknya pengen banget pulang ke rumahnya. Kasihan memang, tetapi itu jalan hidupnya begitu. Seperti halnya gue yang dapet jalan hidup seperti ini. Bersyukur adalah jalan yang paling bener yang harus dilakukan. Walaupun hal yang didapat ga sesuai dengan yang kita inginkan, kita harus tetap bersyukur dan ikhlas.

Bersyukur dan ikhlas, itulah inti yang sahabat gue berikan supaya gue tetep semangat di Bogor ini. Mungkin ada sesuatu yang membuat gue harus di Bogor dan belum saatnya gue tau kenapa. Dengan kesabaran dari ikhlas pasti gue akan menemukan jawaban itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar