Rabu, 06 Februari 2013

Rezeki siapa

Selasa, 18 Des 2012 Ga tau deh kenapa semua seperti ini. Yang gw tau jelas itu adalah keadaan yang semakin riweh (read:ribet). Perebutan sumberdaya, baik manusia maupun perangkat lainnya, semakin terlihat perubahannya. Mereka seperti ingin mengembangkan potensi itu tetapi juga seakan-akan ingin menurunkan kapasitas yang kapabilitas yang ada. Egois. Mungkin satu kata itu yang dapat mewakili ungkapan hati yang merasa melihat keadaan yang seperti itu.

Mereka saling mengejek, beradu argumen, hingga meluapkan emosi yang ada di diri mereka. Tidak masalah menurutku bila seperti itu adanya. Wajar. Itulah saatnya gw mengetahui serunya dibalik bergumul dengan mereka. Perkembangan otak kanan gw seketika itu meningkat. Tingkat kritis pun memuncak. Ambisi menjatuhkan terus membara.

Seharusnya itu cuma terjadi di lapangan. Profesionalisme harusnya tertanam sejak awal. Ya, itu memang benar terjadi adanya. Mereka cukup profesional untuk menyelesaikan masalah. Berbeda dengan teman-teman seperjuangan ospek. Lingkungan ini menarik dan membuat gw tertantang untuk lebih membuka otak kanan yang selama ini tertutup awan hitam, gelap, pekat. Saat itu doa pun terucap dalam hati gw supaya ide dan kreativitas tetap terus ada untuk bersaing mengejar dan menggarap proyek apapun selagi muda.

Pengetahuan tentang sumberdaya perlu gw tingkatkan (read:bergaul). Tata cara mengamati seseorang individu harus diubah secepat mungkin. Pencarian ide melalui sumberdaya juga bisa dilakukan. Memperbaiki visi salah satu caranya. Semoga keesokan harinya menjadi lebih baik dan visi hidup ini terus meluas, berkembang tanpa batas hingga langit lepas.

Rabu, 19 Des 2012 Hari terakhir nih buat mencari bibit sumberdaya yang bagus untuk organisasi ini ke depannya. Dimulai dari perdebatan seperti biasanya. Itu mungkin hal yang biasa menurut mereka. Mencari identitas masing-masing individu dan menyaring manusia berkompeten untuk bersaing dalam kebutuhan fakultas. Seperti biasa, menjatuhkan, menjunjung, dan mematahkan, itu yang terus dilakukan. Bukan berarti tidak ada cara lain untuk menyelesaikannya. Itu yang mempertimbangkan efisiensi waktu dan tenaga.

Hingga akhirnya ada orang yang tiba-tiba datang. Siapakah orang tersebut? Darimanakah dia? Ada urusan apa dia kesini? Lontaran pertanyaan gw luapkan dalam pikiran dan berusaha supaya orang lain tidak mengetahui pertanyaan yang gw lontarkan barusan. Ternyata setelah melakukan analisis yang cukup rumit karena memang sebelumnya tidak diberi tahu. Kesimpulan yang gw dapat adalah dia seorang ketua. Sempet agak keselek juga kenapa orang itu menjadi ketuanya. Ingin rasanya bertanya kenapa harus dia. Bukan jalannya mungkin, itulah yang gw coba tumbuhkan dalam pikiran yang penuh dengan muatan negatif. Terus mengisi otak dengan hal positif dan sampai akhirnya dengan pasrah menerima kenapa harus seperti itu.

Kembali pada masalah orang di hari pertama, banyak pertimbangan yang menyebabkan orang hari pertama itu dirasa kurang pas dengan organisasi ini. Ada ini lah itu lah. Semua memiliki alasan yang konkrit untuk dibuktikan. Akal sehat pun menerima itu. Keputusan finalnya dia diterima dan lolos untuk menjalani kehidupan disini. Dalam hati sih sempet kesel juga kenapa dimasukan. Itulah rezeki masing-masing orang. Jadi pada dasarnya rezeki sudah diatur hingga detail mungkin. Sudah terbukti bahwa yang menerima itu memang pantas untuk menerimanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar